Kamis, 11 April 2019

Pemanfaatan Komoditi Hasil Hutan Jati(Tectona grandis)


Makalah Ekonomi Sumber Daya Hutan                                                    Medan,  11 April 2019

PEMANFAATAN KOMODITI HASIL HUTAN
JATI (Tectona grandis L. f.)

Dosen Penanggung Jawab
Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M. Si.
Oleh :
Nofi Prawina Simbolon
171201113
HUT 4C




Hasil gambar untuk logo usu





PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019



KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Makalah Ekonomi Sumber Daya Hutan ini dengan baik. Makalah Ekonomi Sumber Daya Hutan yang berjudul “ Pemanfaatan Komoditi Hasil Hutan Jati ( Tectona grandis L. f) ” ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Demikian, tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggungjawab Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan yaitu  Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M.si yang telah memberikan materi dengan baik dan benar.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya untuk memperbaiki isi laporan ini akan sangat penulis hargai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.



                                                                                                                     Medan,   April 2019
           



                                                                                                                            Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Jati (Tectona grandis Linn.f.) merupakan tanaman yang sangat populer sebagai penghasil bahan baku untuk industri perkayuan karena memiliki kualitas dan nilai jual yang sangat tinggi. Kekuatan dan keindahan seratnya merupakan faktor yang menjadikan kayu jati sebagai pilihan utama. Jati merupakan salah satu jenis kayu tropis yang sangat penting dalam pasar kayu internasional karena berbagai kelebihan yang dimilikinya dan merupakan jenis kayu yang sangat bernilai untuk tanaman kehutanan. Jati merupakan jenis yang sudah dikenal dan diusahakan sejak lama, khususnya di Pulau Jawa yang meliputi wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di luar Pulau Jawa, jati ditemukan secara terbatas di beberapa tempat di Pulau Sulawesi.
Jati dapat diolah menjadi perabot, venir untuk permukaan kayu lapis dan sebagai parket penutup lantai. Jati sering juga dipakai untuk dok pelabuhan, bantalan rel kereta api, jembatan, dan kapal. Pasokan jati Indonesia masih kekurangan, yaitu sebesar 1,7 juta m 3 /tahun. Dengan demikian, pengembangan jati dinilai sangat prospek di masa yang akan datang. Sayangnya, beberapa permasalahan masih dihadapi saat ini. Diantaranya adalah kurangnya teknologi budidaya yang berwawasan lingkungan untuk mendukung akselerasi pertumbuhan jati secara cepat dan efisien. Para petani di Indonesia masih kurang berminat menanam jati karena masa panen kayu jati yang relatif masih lama.  Oleh karena itu, kita perlu mengembangkan teknologi budidaya yang mempercepat pertumbuhan jati.
Jati (Tectona grandis L.f.) dikenal sebagai kayu komersial bermutu tinggi, termasuk dalam suku Verbenaceae. Jati pertama kali ditanam di Indonesia (di Pulau Jawa) diperkirakan pada abad ke 2 Masehi, yang dilakukan oleh para penyebar agama Hindu. Saat ini jati telah dikenal secara luas dan dikembangkan oleh pemerintah, swasta, dan petani.  Tanaman ini telah banyak dikembangkan, bahkan di beberapa tempat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan tradisional masyarakat.  Di Indonesia, tanaman jati secara khusus berpotensi meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, pedagang, dan industri pengolahan. Secara umum berperan dalam pembangunan daerah dan nasional.  Kayu jati dan hasil olahannya memiliki wilayah pemasaran yang luas, di luar maupun di dalam negeri. Tanaman jati memiliki masa tebang yang panjang sehingga memiliki fungsi lingkungan dalam pengaturan tata air (hidrologi) dan iklim lokal.
Budi daya hutan jati akan membantu mengatasi masalah kekurangan pasokan kayu jati ke pasaran dalam maupun luar negeri di masa yang akan datang. Pada saat ini pasokan kayu jati lokal diperkirakan hanya mampu memenuhi kurang dari 30% jumlah permintaan yang ada. Situasi ini menyebabkan harga kayu jati terus meningkat dari tahun ke tahun. Di lain pihak permintaan ekspor atas produk hasil olahan kayu dan mebel meningkat tajam, yang akhirnya memperbesar jurang antara jumlah pasokan dan permintaan. Investasi dalam budi daya jati merupakan suatu pemanfaatan dana yang bijaksana.
Dewasa ini banyak ditemukan ekspoitasi pemanfaatan tumbuhan tanpa memperhatikan efeknya terhadap pelestarian lingkungan. Adapun eksploitasi tumbuhan tersebut dapat berupa pemanfaatan sebagian atau keseluruhan bagian tumbuhan tersebut. Salah satu tumbuhan yang dieksploitasi adalah tumbuhan Jati. Tumbuhan Jati banyak dimanfaatkan untuk perabotan rumah tangga, bahan bagunan dan lai sebagainya. Adapun daunnya dapat dimanfaatkan untuk pembungkus makanan (misal ikan) karena merupakan polimer alami. Ratusan species tanaman jati tersebar di seluruh Indonesia, baik jati unggul maupun jati biasa. Banyaknya spesies tanaman jati yang ada menyebabkan kesulitan dalam mengenal jenis tanaman jati yang satu dengan yang lainnya. Untuk mengetahui setiap jenis tanaman jati yang ada dibutuhkan pengalaman dan pengetahuan yang cukup lama. Maka dari itu, perlu dikembangkan suatu sistem identifikasi tanaman jati. Identifikasi morfologi tumbuhan biasanya menggunakan batang, daun, buah dan bunga sedangkan identifikasi fisiologis yang diamati antara lain kandungan klorofil, konduktivitas stomata, diameter batang, tinggi tanaman dan jumlah daun.
Pohon Jati cocok tumbuh di daerah musim kering agak panjang yaitu berkisar 3-6 bulan pertahun. Besarnya curah hujan yang dibutuhkan rata-rata 1250-1300 mm/tahun dengan temperatur rata-rata tahunan 22-26° C. Daerah-daerah yang banyak ditumbuhi Jati umumnya tanah bertekstur sedang dengan pH netral hingga asam. Penanaman jati yang pert ama dilakukan oleh orang hindu yang dat ang ke Jawa. Sehingga terkesan, jat i didat angkan oleh orang hindu atau negeri hindulah tempat asli dari jati. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa jati yang tumbuh di Indonesia (Jawa) merupakan jenis asli. Jati ini telah mengalami mekanisme adaptasi khusus sesuai dengan keadaan iklim dan edaphis yang berkembang puluhan hingga ratusan ribu tahun.
Kayu jati termasuk kelas kuat I dan kelas awet II. Penyebab keawetan dalam kayu teras Jati adalah tectoquinon (2-methylanthraquinone). Kayu jati mengandung 47,5% sellulosa, 30% lignin, 14,5% pentosan, 1,4 % abu dan 0,4-1,5% silika. Kayu Jati banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Beberapa kalangan masyarakat merasa bangga apabila tiang dan papan bangunan rumah serta perabotannya terbuat dari Jati. Berbagai konstruksi pun terbuat dari Jati seperti bantalan rel kereta api, tiang jembatan, balok dan gelagar rumah, serta kusen pintu dan jendela. Pada industri kayu lapis, Jati digunakan sebagai finir muka karena memiliki serat gambar yang indah. Dalam industri perkapalan, kayu Jati sangat cocok dipakai untuk papan kapal yang beroperasi di daerah tropis. Daun jati letaknya saling berhadapan berbentuk opposite bertangkai pendek. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau dan kasar sedangkan bagian bawah berwarna hijau kekuning-kuningan berbulu halus, diantara rambut- rambutnya terdapat kelenjar merah yang menggembung, sedangkan daun yang masih muda berwarna hijau tua keabu-abuan.

1.2. Rumusan Masalah
1. Apa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jati ?
2. Apa karakteristik pohon jati ?
3. Apa manfaat dari pohon jati?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi pertumbuhan jati.
2. Untuk mengetahui karakteristik pohon jati.
3. Untuk mengetahui manfaat daripada pohon jati.


BAB II
ISI
2.1 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Jati
            Sebelum pengembangan tanaman jati dilaksanakan pada skala yang luas, perlu direncanakan secara baik dan dapat dimulai dengan pengamatan-pengamatan. Pengamatan antara lain meliputi letak lahan (topografi), kondisi ekologis, iklim dan kondisi kesuburan lahan (struktur dan tekstur). Hal ini diperlukan untuk persyaratan tumbuh optimal tanaman jati. Hal-hal yang perlu dicatat adalah paramter iklim dan lahan, serta secara teknis letak lokasi yang erat hubungannya dengan kondisi topografi,kualitas lahan, serta kesesuaian tempat tumbuh. Pengamatan kesesuaian tempat tumbuh dapat dilakukan dengan mempelajari pendekatan kondisi endemik asal usul tempat tumbuh tanaman jati. Untuk tanaman jatijenis Tectona grandis dapat dipelari dari letak kondisi lahan pertumbuhan jati seperti di India. Pemilihan lahan pengembangan dapat pula dengan memperhatikan tingkat keberhasilan tumbuh serta kualitas produk kayu yang dihasilkan di daerah pengembangan. Sebagai contoh adalah tanaman jati tumbuh dengan baik dan menghasilkan kayu yang cukup berkualitas di pulau Jawa, Kengean, Muna, Bali, dan Sumbawa.
Secara umum tanaman jati idealnya ditanam di areal dengan topografi yang relatifdatar (hutan dataran rendah) atau memiliki kemiringan lerang < 20%, selain itu tanaman jati membutuhkan iklim dengan curah hujan minimum 750 mm/thn, optimum 1000 – 1500 mm/thn dan maksimum 2500 mm/thn. Walaupun demikian, tanaman jati masih dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 3750 mm/thn. Suhu udara yang dibutuhkan tanaman jati untuk tumbuh dengan baik minimum adalah 13-17 0C dan masimum 39-43 0C. Pada suhu yang optimal, yaitu 32-42 0C, tanaman jati akan menghasilkan kualitas kayu yang baik. Kondisi kelembaban lingkungan tanaman jati yang optimal sekitar 80% untuk fase vegetatif dan antara 60-70% untuk fase generatif. Di daerah dengan ketinggian lebih dari 600 m dpl, jati tidak dapat berkembang dengan baik, karena rata-rata suhu tahunannya lebih rendah. Umumnya daerah tersebut akan lebih didominasi oleh jenis-jenis yang tidak menggugurkan daun (non-decidous species) yang merupakan pesaing bagi pertumbuhan jati. Curah hujan secara fisik dan fisologis berpengaruh terhadap sifat gugurnya daun dan kualitas produk kayu. Di daerah dengan musim kemarau panjang, tanaman jati akan menggugurkan daunya dan biasanya lingkaran tahun yang terbentuk lebih artistik.
Kayu jati memiliki teras yang lebih kuat sehingga dikelompokkan dalamjenis kayu mewah (fanci wood) atau kelas I. Jati seperti ini banyak ditemukan di daerah Jawa Tengah (Cepu dan Jepara) dan Jawa Timur (Bondowoso dan Situbondo). Pada daerah yang sering turun hujan atau curah hujannya tinggi (> 1500 mm/thn), tanaman jati tidak menggugurkan daaun dan lingkaran tahunnya kurang menarik sehingga produk kayunya tergolong kelas II-III, misalnya tanaman jati yang ditanam di Sukabumi, Jawa Barat (curah hujan > 2500 mm/thn). Secara geologis, tanaman jati tumbuh di tanah dengan batuan induk berasal dari formasi batu kapur, granit, gneis, mica, schist, batu pasir, kuarsa, endapan, shale, dan lempung. Pertanaman jati akan tumbuh lebih baik pada lahan dengan kondisi fraksi lempung, lempung berpasir, atau pada lahan liat berpasir. Sesuai dengan sifat fisiologisnya dan untuk menghasilkan pertumbuhan optimal, jati mermerlukan kondisisolumn lahan yang dalam dan kemasaman tanah (pH) optimum sekitar 6.0. Namun pada kasus tertentu, dijumpai pertanaman jati yang tumbuh baik pada pH rendah (4-5). Tanaman jati sensitif terhadap rendahnya nilai pertukaran oksigen dalam tanah, maka pada lahan yang berporositas dan memiliki drainase baik akan menghasilkanpertumbuhan tanaman jati yang baik. Ini terjadi karena akar tanaman jati lebih mudah menyerap unsur hara pada kondisi tersebut. Kondisi kesuburan laha juga akan berpengaruh terhadap perilaku fisiologis tanaman dan ditunjukkan oleh perkembangan riap tumbuh (tinggi dan diameter).
Unsur kimia pokok (macro element) yang penting dalam mendukung pertumbuhan jati adalah kalsium (Ca), posfor (P), kalium (K), dan nitrogen (N). Pada lahan hutan jati alam, kapasitas bahan organik (humus) yang tersedia antara 1.87-5.5% berada di permukaan dan 0.17-1.90% berada sekitar 100 cm berada di bawah permukaan. Rendahnya nilai kapasitas bahan organik pada lahan jati akan menurunkan tingkat kecepatan tanaman dalam membentuk perakaran. Terdapat hubungan antara kapasitas hara makro dengan tingkat kecepatan pembentukan akar yang berdampak positif terhadap pertumbuha riap tanaman jati. Tanaman yang berkembang pada lahan dengan kandungan unsur hara makro (N, P, K, Ca, dan Mg) yang optimal akan membentuk sistem perakaran yang baik, sehingga proses penyerapan hara semakin cepat dan kemampuan pohon untuk menghasilkan kayu yang baik akan semakin tinggi.

2.2 Karakteristik Pohon Jati
            Secara morfologis, tanaman jati memiliki tinggi yang dapat mencapai sekitar 30 – 45 m. Dengan pemangkasan, batang yang bebas cabang dapat mencapai antara 15 – 20 cm. Diameter batang dapat mencapai 220 cm. Kulit kayu kasar, berwarna kecoklatan atau abu-abu yang mudah terkelupas. Percabanganjauh dari batang utama. Pangkal batang berakar papan pendek dan bercabang sekitar empat. Pohon besar dengan batang yang bulat lurus, tinggi total mencapai 40 m. Batang bebas cabang (clear bole) dapat mencapai 18-20 m. Pada hutan-hutan alam yang tidak terkelola ada pula individu jati yang berbatang bengkok-bengkok. Sementara varian jati blimbing memiliki batang yang berlekuk atau beralur dalam; dan jati pring (Jw., bambu) nampak seolah berbuku-buku seperti bambu. Kulit batang coklat kuning keabu-abuan, terpecah-pecah dangkal dalam alur memanjang batang. Pohon jati (Tectona grandis sp.) dapat tumbuh meraksasa selama ratusan tahun dengan ketinggian 40-45 meter dan diameter 1,8-2,4 meter.
Namun, pohon jati rata-rata mencapai ketinggian 9-11 meter, dengan diameter 0,9-1,5 meter. Pohon, tinggi sampai 40 m. Batang jauh di atas tanah baru bercabang. Bagian yang muda dan bagian sisi bawah daun berbulu vilt rapat, berbentuk bintang. Daun bertangkai pendek, kadang- kadang duduk, elips atau sedikit banyak bulat telur , dengan ujung yang berbentuk baji dan bagian pangkal yang menyempit, pada cabang yang berbunga, 23-40 kali 11-21 cm. Daun yang muda sering coklat kemerah- merahan. Karangan bunga tersusun dari anak payung menggarpu, di ujung, berambut serupa tepung ditutupi dengan kelenjar. Bunga ltak 1 cm garis tengahnya, jarang berbilangan 5, biasanya berbilangan 6-7. Kelopak berbentuk lonceng, pada waktu menjadi buah membesar dan melembung. Mahkota bentuk jantera corong, dengan tabung pendek, putih, kadang- kadang agak ros, leher tidak berambut. Benang sari sebanyak tajumahkota, menjulang jauh. Bakal buah beruang 4, bakal biji 4. Tangkai putik dengan ujung yang terbelah dua pendek. Buah berambut kasar, inti tebal, berbiji 2-4. Mungkin dari India Belakang, ditanam dan liar, terutama di daerah kering secara berkala, sampai 650 m. Musim berbunga kebanyakan dalam permulaan musim penghujan.
Bunga jati bersifat majemukyang terbentuk dalam malai bunga (inflorence) yang tumbuh terminal diujung atau tepi cabang. Panjang malai antara 60-90 cm dan lebar antara 10-30 cm. Bunga jantan (Benang sari) dan betina (Putik) berada dalam 1 (satu) Bunga (monoceus). Bunga bersifat actinomorfic , berwarna putih, berukuran 4-5 mm (lebar)dan 6-8 mm (Panjang). Kelopak bunga (calyx) berjumlah 5-7 dan berukuran 3-5 mm. Mahkota bunga (corolla) tersusun melingkar berukuran sekitar 10 mm. Tangkai putik (Stamen) berjumlah 5-6 buah dengan filamen berukuran 3 mm, antara memanjang berukuran 1-5 mm, ovarium membulat berukuran sekitar 2 mm. Bunga yang terbuahi akan menghasilkan buah berukuran 1-1,5 mm. Tanaman jati akan mulai berbunga pada saat musim hujan.
Sifat fisik kayu adalah sebagai berikut : kayu jati memiliki berat jenis antara 0,62-0,75 dan memiliki kelas kuat II-III dengan nilai keteguhan patah antara 800-1200 kg/cm3. Daya resistensi yang tinggi kayu jati terhadap serangan jamur dan rayap disebabkan karena adanya zat ekstraktif tectoquinon atau 2-metil antraqinon. Selain itu, kayu jati juga masih menagndung komponen lain, seperti tri poliprena, phenil naphthalene, antraquinon dan komponen lain yang belum terdeteksi. Kayu jati memiliki kadar selulosa 46,5%, lignin 29,9%, pentosan 14,4%, abu 1,4%, dan silika 0,4%, serta nilai kalor 5,081 kal/gr. Keawetan kayu sesuai hasil uji terhadap rayap dan jamur tergolong kelas II. Dengan demikian, kayu jati dapat terserang rayap dengan kapasitas rendah pada kondisi kayu yang dipengaruhi oleh umur pohon, semakin tua kayu jati semakin sulit terserang rayap.

2.3 Manfaat Pohon Jati
            Kayu jati dikenal sebagai kayu yang paling berkualitas, kuat dan tahan rayap. Kayu tersebut umum digunakan sebagai bahan baku furnitur. Ranting/ dahan jati umum digunakan sebagai kayu bakar. Sedangkan akar jati dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan. Daun jati dimanfaatkan sebagai alat pembungkus, misal makanan atau bahkan alat pembungkus tempe. Selain itu juga digunakan sebagai pewarna dalam pengolahan gudeg. Daun jati kering digunakan sebagai alas pada kandang ternak (sapi, kambing). Selain itu dapat digunakan sebagai pewarna dalam pengolahan telur merah dimana warna yang dihasilkan tidak terlalu tua dan tidak terlalu cerah karena telur yang diwarnai tidak menggunakan bahan kimia.
            Manfaat jati yang lain dapat yaitu sebagai penyembuh luka. Tectona grandis dipreparasi dan dibandingkan dengan ekstrak Aloe vera (yang sudah lama dikenal sebagai penyembuh luka), diaplikasikan pada tikus yang telah diinduksi luka. Luka yang diujikan yaitu luka permukaan (excision wound), luka dalam (incision wound), luka bakar (burn wound), dan dead space wound. Simpulan yang diperoleh dari eksperimen tersebut adalah ekstrak daun Tectona grandis yang diaplikasikan secara topikal (dioles pada luka) (5% dan 10% formulasi), serta secara oral (250 mg dan 500 mg/kg berat badan) memiliki aktivitas penyembuhan luka.
            Jati juga dapat dimanfaatkan sebagai hair tonic dan penumbuh rambut. Biji Tectona grandis dapat dimanfaatkan sebagai penumbuh rambut. Dalam penelitiannya, ektrak petroleum ether biji jati diujikan pada mencit yang telah dicukur gundul secara topikal, kemudian waktu yang digunakan untuk inisiasi pertumbuhan rambut dan tumbuhnya rambut sepenuhnya dihitung. Sebagai kontrol positif, digunakan larutan Minoxidil yang merupakan obat sintetis penumbuh rambut yang sudah teruji dan beredar di pasaran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa biji jati dapat digunakan sebagai penumbuh rambut, dan berhasil menumbuhkan lebih banyak folikel rambut daripada minoxil.
            Selain itu, manfaat lain dari jati yaitu sebagai obat diabetes mellitus. Jati sebagai penurun kadar glukosa darah telah banyak diteliti , dinyatakan bahwa suspensi kulit batang jati yang diadministrasikan secara oral pada tikus diabetes yang diinduksi aloksan, setelah 30 hari menunjukkan hasil yang signifikan pada penurunan glukosa darah, dari 250 ± 6.5 menjadi 50 ± 2.5 mg/dL. Simpulan yang dapat ditarik dari eksperimen tersebut adalah ekstrak kulit batang jati dapat digunakan sebagai obat alami penurun kadar glukosa darah. Dapat juga digunakan sebagai obat anemia, untuk membuktikannya, beberapa saintis Togo mengusung penelitian tersebut dan membuktikan bahwa ekstrak daun jati dapat digunakan sebagai penyembuh anemia. Penelitian tersebut menggunakan tikus yang diinjeksi secara intraperitoneal dengan fenilhidrazin dengan dosis 40mg/kg selama 2 hari. Kemudian, ekstrak daun jati sebanyak 1g/kg tubuh/hari dan 2g/kg tubuh/hari diberikan pada tikus yang sebelumnya telah diberi perlakuan fenilhidrazin. Efeknya, konsentrasi hemoglobin, jumlah sel darah merah, kadar hematokrit dan retikulosit meningkat.
            Berikut ini beberapa manfaat dan kegunaan lain dari kayu jati :
1. Daun jati sering dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan, dan memberikan wangi yang lebih nikmat daripada daun pisang
2. Kulit kayu jati sering dimanfaatkan sebagai pelapis dinding atau tembok pada rumah
3. Kayu jati dapat memproduksi vernis atau lapisan yang dapat digunakan untuk melapisi dan memvernis perabotan serta hasil produksi yang terbuat dari kayu lainnya.
4.  Daun jati dapat dimanfaatkan sebagai teh dan minuman
5. Parutan dari kayu jati dapat diseduh untuk menyembuhkan penyakit kolera dengan dicampur dengan asam jawa.
6.  Akar dari pohon jati dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami
7.  Ranting pohon jati, digunakan sebagai kayu bakar untuk perapian, karena dapat menghasilkan panas yang tinggi
8.  Ranting pohonnya juga pernah digunakan untuk bahan barak lokomotif uap
Itulah beberapa manfaat dan kegunaan dari kayu jati.
            Eksistensi pohon jati sebagai penghasil kayu kualitas nomor wahid sudah tidak diragukan lagi. Pohon jati memang sangat dikenal dengan hasil kayu yang indah, awet, tahan terhadap serangan rayap dan cuaca. Pohon dengan nama ilmiah Tectona grandis sp. ini mampu tumbuh hingga ratusan tahun dengan ukuran yang besar dan tinggi sekitar 40-45 meter. Dengan kualitas kayunya yang tinggi, dan sudah terkenal ketahanannya, kayu jati juga menjadi salah satu komoditi ekspor yang menjajikan karena memiliki harga jual yang sangat tinggi. Pohon ini juga merupakan salah satu jenis pohon yang tingkat pertumbuhannya lambat dan rendah.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

  1.  Jati (Tectona grandis Linn.f.) merupakan tanaman yang sangat populer sebagai penghasil bahan baku untuk industri perkayuan karena memiliki kualitas dan nilai jual yang sangat tinggi.
  2. Pohon Jati cocok tumbuh di daerah musim kering agak panjang yaitu berkisar 3-6 bulan pertahun. Besarnya curah hujan yang dibutuhkan rata-rata 1250-1300 mm/tahun dengan temperatur rata-rata tahunan 22-26° C.
  3. Secara umum tanaman jati idealnya ditanam di areal dengan topografi yang relatifdatar (hutan dataran rendah) atau memiliki kemiringan lerang < 20%, selain itu tanaman jati membutuhkan iklim dengan curah hujan minimum 750 mm/thn, optimum 1000 – 1500 mm/thn dan maksimum 2500 mm/thn.
  4.   Secara morfologis, tanaman jati memiliki tinggi yang dapat mencapai sekitar 30 – 45 m. Dengan pemangkasan, batang yang bebas cabang dapat mencapai antara 15 – 20 cm.
  5.  Kayu jati dikenal sebagai kayu yang paling berkualitas, kuat dan tahan rayap.


DAFTAR PUSTAKA
Efendi, Syammiah, dan M. Ikbal. 2012. Akserelasi Pertumbuhan Stump Jati (Tectona  Grandisl.F.) Dengan pemotongan Batang Dan Inokulasi    Mikoriza. Jurnal Floratek. 7: 141-149.

Lamanda, S. A. 2018. Analisis Morfofisiologis Jati (Tectona grandis Linn. f.). Fakultas Kehutanan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Maskuro, A. 2012. Deskripsi Tumbuhan Jati Dan Peranannya Dalam Kehidupan Sehari-Hari. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Jember.

Murtinah, V., Marjenah., Afif. M,. Daddy. R. 2015. Pertumbuhan Hutan Tanaman Jati (Tectona Grandislinn.F.) Di Kalimantan Timur. Jurnal AGRIFOR.     XIV(2).

Pramono, A.A., Fauzi, M.A., Widyani, N., Heriansyah, I. dan Roshetko, J.M. 2010. Pengelolaan hutan jati rakyat: panduan lapangan untuk petani. CIFOR, Bogor, Indonesia.

Siregar, E. B. M. 2005. Potensi Budidaya Jati Fakultas Pertanian. Program Studi   Kehutanan. Universitas Sumatera Utara. Medan.









Kebudayaan Masyarakat Suku Betawi

Makalah Sosiologi Hutan                                                                   Medan , 02 Oktober 2019 KEBUDAYAAN ADAT MASYA...